Siang itu, Kamis (1/2/2007), Isma Dewi, terlihat gembira. Siswa Kelas V SD Peunaga Cut Ujong dengan riang membuka-buka halaman majalah anak-anak. Dewi tidak sendirian. Beberapa anak lain yang datang bersamanya juga menunjukkan wajah riang yang sama saat duduk bersila atau rebahan, ketika membaca buku di Taman Bacaan Gampong.
Kamis kemarin (1/2) merupakan hari besar bagi Jasman kawan-kawan usia sekolah dasar yang tinggal di Desa Peunaga Cut Ujong, Kecamatan Meurebo, Aceh Barat. Ini hari pertama mereka menempati gedung baru tersebut. Sebelumnya aktivitas membaca mereka biasa dilakukan pada salah satu rumah yang baru selesai dibangun.
“Di sini lebih lapang. Duduk di balai desa juga bisa,” ujar Isma Dewi.
Satu tahun sebelum hari ini, puluhan anak Peunaga Cut Ujong biasa berkumpul di salah satu rumah yang baru dibangun Yayasan KKSP (Kelompok Kerja Sosial Perkotaan) Medan dan TdH Germany, namun belum ditempati warga. Di rumah itu, saban hari anak-anak berkumpul. Membolak-balik buku yang memang sengaja dibawa KKSP dari Medan.
“Pembangunan Taman Bacaan Gampong ini merupakan upaya untuk memberikan tempat yang lebih baik bagi anak-anak yang memang terlihat sangat tinggi minat bacanya. Selama ini mereka membaca buku-buku yang memang sengaja kita sediakan, di rumah warga,” kata Syamsul Manager Operasional Yayasan KKSP, lembaga yang konsen menangani persoalan anak, yang berbasis di Medan.
Pembangunan gedung permanen seluas 36 meter persegi senilai Rp 75 juta ini, memang digagas KKSP. Sementara dukungan dana datang dari BRR Aceh Nias – Revitalisasi dan Pengembangan Kebudayaan NAD.
Dalam kerjasama ini, BRR memberi andil dalam penyediaan bangunan, sarana pendukung berupa perangkat meja, kursi dan rak buku, berikut buku, serta pengadaan satu unit komputer untuk sistem administrasi perpustakaan mini ini. Sementara KKSP bertanggung jawab terhadap konstruksi dan penyiapan sumber daya untuk pengelolaan taman baca ini.
Dalam pelaksanaannya, kata Syamsul, pengelolaan taman baca ini diserahkan sepenuhnya kepada pemerintahan desa. Makanya dilakukan pelatihan untuk peningkatan kapasitas pengelola. Sementara proses kemandirian itu tercipta, maka KKSP akan terus memberikan mendukung untuk menunjang operasional.
“Pasca pembangunan perumahan di Aceh Barat, KKSP masih akan melakukan serangkaian kegiatan kemanusiaan, di antaranya pendidikan anak, kesehatan pemberdayaan ekonomi. Program itu berdurasi tiga tahun. Jadi selama program itu berlangsung, KKSP akan membantu operasional Taman Bacaan Gampong, namun sifatnya terbatas. Pengelolaan sepenuhnya tetap ada pada masyarakat. Kita hanya fasilitator,” kata Syamsul.
Bagi Geuchik Peunaga Cut Ujung, Syaiful Sanggana, kehadiran taman baca ini juga menjadi prestasi sendiri bagi daerahnya. “Ini merupakan taman baca pertama di Kecamatan Meureubo, dan saya yakin ini juga yang pertama di Aceh Barat. Bagi kami ini sangat menggembirakan,” kata Syaiful Sanggana. (*)
