Sebanyak 15 lelaki duduk membentuk setengah lingkaran. Rebana di pangkuan kemudian ditabuh membentuk irama, beriring dengan sahut-sahutan dendang syair berbahasa Aceh. Lalu dua di antara mereka bangkit dari duduk. Melompat sambil menusuk-nusukkan rencong ke perut dengan sekuat tenaga. Tak ada darah. Hanya rencong yang kemudian melengkung.
Rapai Dabus merupakan atraksi budaya Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang tergolong langka. Salah satu kelompok yang masih eksis hingga kini, kelompok Beruang Hitam. Rutin setiap pekan kelompok ini berlatih di Desa Peunaga Cut Ujong, Kecamatan Meurebo, Aceh Barat.
Sekilas, atraksi budaya Rapai Dabus, mirip dengan debus yang terkenal di Jawa Timur. Namun ada beberapa unsur yang berbeda. Terutama dalam penggunaan alat musik.
Sesuai dengan kata awal namanya, rapai, maka Rapai Dabus memang mutlak menggunakan rebana atau rapai dalam bahasa Aceh. Selain itu penggunaan alat-alat utamanya berupa senjata tajam. Mulai dari rencong yang merupakan senjata tajam khas Aceh, hingga obeng, pisau, rantai, dan bambu.
“Selain ditusukkan ke lengan atau badan, bambu itu juga biasanya diletakkan menggantung pada atap panggung. Pemain melompat sehingga kepalanya terkena bambu. Ada juga mampu menghadapi mesin chain saw. Tidak terluka sama sekali walau rantai chain saw mengenai tubuh,” kata Ahmad Waki, 54, Ketua Kelompok Beruang Hitam, di Peunaga Cut Ujong, Minggu (18/3).
Kemungkinan terluka dalam atraksi budaya ini memang terbuka lebar. Namun menurut Ahmad, keseriusan, keyakinan serta berserah diri kepada Allah, sangat penting dalam melakukan atraksi budaya ini. Makanya tidak sembarangan orang yang bisa terlibat dalam atraksi ini.
Berkumpul Setelah Tsunami
Menurut Zakaria, 47 tahun, salah satu anggota kelompok Beruang Hitam, kelompok ini terbentuk tahun 1997. Namun sewaktu tsunami lalu, kelompok ini sempat tercerai-berai. Walau semua personil selamat, namun kegiatan latihan dan manggung praktis tidak bisa dilakukan. Masing-masing disibukkan dengan upaya menghidupi diri, mencari keluarga dan membangun kembali rumah yang hancur terkena tsunami.
“Setelah rumah selesai, kami pun mulai bisa beraktivitas lagi. Kalau tidak, mana mungkin tenang pikiran. Padahal permainan ini membutuhkan konsentrasi. Jika tidak bisa terluka,” kata Zakaria.
Aktivitas manggung pertama kali pasca tsunami, berlangsung awal Februari lalu di Desa Peunaga Cut Ujong. Saat peresmian 181 rumah bantuan Yayasan KKSP Medan dan Terre Des Homes (TdH) Germany. Jika biasanya mereka mendapat bayaran Rp 1,5 juta sekali tampil, pada hari itu, mereka tampil tanpa memungut bayaran. Pasalnya, dari semua rumah yang diresmikan itu, termasuk rumah setiap pemain kelompok Beruang Hitam.
Regenerasi
Umumnya para pemain dalam Rapai Dabus mendapat kemampuan secara turun-temurun. Ahmad Waki, yang mulai bermain dabus sejak usia 25 tahun, mendapat keahlian dari ayah dan kakeknya yang juga pemain dabus. Zakaria juga demikian, belajar dari ayahnya, Yahya yang berusia 75 tahun. Bahkan kini keduanya bersama-sama di Kelompok Beruang Hitam.
Namun Rapai Dabus juga bisa dipelajari. Jika memang serius, kata Ahmad Waki, semua orang bisa mempelajarinya. Namun ada persyaratan yang harus dipenuhi, termasuk puasa selama 15 hari. Selebihnya menjaga stamina, karena memang atraksi ini menguras tenaga.
Biasanya Rapai Dabus dipagelarkan malam hari. Mulai pukul delapan malam, hingga jam empat dinihari. Atraksi itu pun sering juga dijadikan semacam adu tanding dua kelompok. Jadi kalau yang satu mentas, kelompok lain istirahat. Demikian bergantian hingga pagi. Tidak ada yang kalah maupun memang, hanya masyarakat yang senang karena ada atraksi budaya yang memang sudah jarang digelar.
