Taman kota merupakan salah satu kebutuhan bagi masyarakat yang tinggal di perkotaan. Menjadi tempat untuk bermain, tempat rekreasi bagi keluarga yang jenuh dengan rutinitas sehari-hari. Taman kota menjadi pilihan, murah dan sangat mudah dijangkau.
Tapi apa jadinya jika fungsi taman bermain tersebut berubah menjadi tempat transaksi seks?
Fenomena ini bisa dilihat di taman Gajah Mada di Jalan Gajah Mada Medan. Siang hari taman itu berfungsi sebagaimana layaknya. Tempat bermain anak-anak, dan bagi orang dewasa, tempat untuk berolahraga, atau sekedar duduk-duduk sambil ngobrol dan membaca buku.
Namun pada malam hari, suasananya berubah drastis. Cafe-cafe tenda bermunculan, dengan lampu temaram, remang-remang. Malam hari, taman Gajah Mada berubah fungsi, menjadi tempat berkumpul para pekerja seks.
Kegiatan transaksi seks yang berlangsung di sana, sudah menjadi rahasia umum. Masyarakat sekitar seolah sudah menerima dengan wajar kondisi tersebut.
Ada banyak sebutan untuk mereka yang menjajakan seks di taman Gajah Mada ini, seperti onces, kupu-kupu kecil, ayam muda dan beberapa sebutan lainnya. Sebagian istilah itu dibuat untuk menjaga kerahasiaan dan keamanan mereka, agar orang awam tidak mengetahui aktivitas mereka di taman tersebut.
Pekerja Seks Anak
Di antara puluhan pekerja seks yang biasa mangkal di seputaran Taman Gajah Mada, terdapat juga beberapa yang masih tergolong anak. Mereka berasal dari berbagai level masyarakat, dan beragam latar belakang. Bahkan ada yang menjadi pekerja seks hanya karena kesenangan bukan semata-mata karena faktor ekonomi.
Modus utama dalam melakukan transaksi tetap sama seperti yang pernah ditemukan di beberapa lokasi transaksi seks lainnya. Ada yang memakai perantara mucikari atau germo, bahkan ada yang langsung menghubungi sendiri lewat handpone. Proses awalnya dengan memberikan nomor kontak kemudian menghubungi, buat janji untuk bertemu, tawar-menawar kemudian melakukan transaksi.
Melihat fenomena ini, KKSP membuat program pendampingan ke taman Gajah Mada untuk melakukan penyadaran. Proses penyadaran ini merupakan bagian tahapan program, dengan target akhir anak-anak tidak kembali terjun ke dunia prostitusi.
