Arsip untuk Januari, 2007

h1

Membidani Calon Profesor dari Dalu X-B

Januari 26, 2007

Bangunan kayu berlantai dua itu berada tak jauh dari kantor kepala desa. Setiap hari, puluhan anak datang kemari. Mereka duduk tekun membaca beragam jenis buku. Jenuh sebentar, mereka bermain kejar-kejaran. Berikutnya balik lagi ke dalam ruangan. Kali ini membaca buku berjudul Teknik Merawat Mobil.

Bangunan kayu itu adalah Taman Baca Mekkar. Lokasinya berada di Desa Dalu X B, atau Dalu Sepuluh B, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang. Dari tugu batas Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang, jaraknya sekitar 10 kilometer. Namun jalan menuju ke sana masih berdebu. Sebagian besar ruas jalan masih rusak.

Di taman baca ini, hampir setiap hari anak-anak warga desa, terutama yang sekolah di SD Inpres dan SD Pelita datang berkunjung. Seringkali mereka singgah usai jam belajar sekolah, namun belum pulang ke rumah. Setelah membuka sepatu di depan pintu masuk, selangkah kemudian bisa langsung memilih bacaan yang disenangi. Jika kurang nyaman duduk di kursi model sekolah yang ada di lantai bawah, bisa membaca sambil rebahan di lantai atas.

Ada beberapa jenis buku tersedia, namun kebanyakan buku nonpaket belajar. Ada komik sejarah, buku notasi atau lagu, majalah dan terbitan-terbitan terbatas. Bahkan buku mengenai cara merawat mobil juga ada.

“Memang yang datang ke taman baca ini buku ini tidak hanya anak-anak sekolah dasar. Ada juga pelajar SMP atau SMA, bahkan juga orang tua. Makanya koleksi buku dan majalah juga beragam. Termasuk untuk bacaan serius seperti teknik merawat mobil itu,” kata Pudjiningtiyas, salah satu pengelola taman baca ini, Jumat (26/1).

Selain sebagai pengelola taman baca, wanita berusia 39 tahun yang kerap dipanggil Mbak Pudji oleh anak-anak di taman baca itu, merupakan  seorang guru dan sekaligus Koordinator Pendidikan pada Yayasan KKSP (Kelompok Kerja Sosial Perkotaan) Pusat Informasi dan Pendidikan Hak Anak. Lembaga yang konsen dalam bidang penanganan persoalan anak ini, beralamat di Jalan Setia Budi Gg Rambe No. 2, Medan.

Cikal-bakal pendirian taman baca yang terbentuk sejak Desember 2005 ini, tidak terlepas dari peran KKSP yang mendorong pembentukannya. Mulanya hanya sebuah ide di warung kopi. Lantas salah seorang pemuka warga, Pak Ngadim, bersedia meminjamkan setapak tanah di samping rumahnya di Dusun VIII untuk lokasi. Sementara warga lain yang dikoordinir Pak Miswanto, menyumbang dalam berbagai bentuk. Jadilah bangunan berukuran 4 X 6 meter itu kemudian berdiri sampai sekarang dengan total biaya pembangunan sekitar Rp 3 juta. Sedangkan KKSP menyuplai kursi dan buku-buku yang diperoleh dari sumbangan berbagai pihak.

Pemecah Kebuntuan

Keberadaan taman baca ini menjadi pemecah kebuntuan rindu anak-anak akan literatur di luar buku paket belajar, yang tidak tersedia di sekolah. Minat baca mereka tinggi, tetapi sebelumnya tidak ada fasilitas untuk menyalurkannya. Maka begitu taman baca “kelas kampung” ini hadir, puluhan anak datang setiap hari. Ruangan kecil itu pun menjadi sesak.

Pagi hari biasanya anak-anak sudah mulai berdatangan. Terutama yang masuk sekolah sore. Namun siang hari usai bubaran sekolah, anak-anak SD Inpres maupun SD Pelita yang ada di sekitar taman baca, mulai berdatangan. Sekitar pukul 15.00 Wib, giliran anak SMP dan SMA yang tinggal di sekitar taman baca yang datang.

Salah satu pengunjung rutin adalah Arfan, siswa kelas 5 SD Pelita. Hampir saban hari dia ke sana untuk membaca atau meminjam buku. “Tempatnya enak, jadi membaca di sini juga enak. Tapi bukunya masih sedikit,” ujar Arfan.

Koleksi buku memang menjadi persoalan. Saat ini hanya tersedia sekitar 300 judul buku dan majalah. Makanya jadwal peminjaman dibatasi waktunya. Kecuali koleksi dengan judul serupa ada lebih dari satu. Bisa diberi tempo peminjaman sampai 30 hari.

“Kita berharap dapat menyediakan buku nonkurikulum lebih banyak lagi. Misalnya mengenai dongeng-dongeng dan cerita rakyat Sumatera Utara atau dari daerah lain. Dulu kalau tidak salah Firma Madju Medan pernah memproduksinya. Tapi sekarang sepertinya tidak lagi,” ujar Pudji.

Berkembang

Memasuki usia satu tahun berdirinya, Taman Baca Mekkar, yang merupakan singkatan Meningkatkan Kreatifitas dan Karya Anak Rakyat, kini sudah mulai berkembang. Fokusnya tidak lagi sebatas tempat membaca.

Komunitas anak di sini mulai menggagas sendiri agenda belajar dalam bentuk lain. Mulai dari latihan menari, melukis dan rencananya dalam waktu dekat anak-anak di sana akan beternak kelinci.

Yang menggembirakan, semuanya hadir atas inisiatif warga. Termasuk pengelolaannya dari waktu ke waktu. Dengan serangkaian manfaat yang diperoleh dari kehadirannya, Taman Baca Mekkar seolah telah menjadi bidan bagi kelahiran calon-calon profesor dari Dalu X-B pada masa mendatang. Bisa juga menjadi presiden. Siapa tahu kan?